PAHLAWAN ZENI AD

Markas Besar Angkatan Darat Dinas Sejarah BALAVIDYA

TELADAN G.P.H. DJATIKUSUMO

( JANGAN MEMIMPIN KALAU TIDAK TAHU SEJARAH ) (JENDERAL TNI KEHORMATAN G.P.H. DJATIKUSUMO)

THE BOY GENERAL
THE BOY GENERAL…inilah  sebutan  media  asing  kepada  jenderal
TNI kehormatan G.P.H.Djatikusumo. Orang pertama yang menjabat pucuk pimpinan TNI AD, berpawakan kecil dengan bentuk wajahnya baby face yang  lembut  dalam  bertutur  bahasa, namun tegas dalam bersikap dan bertindak.G.P.H.Djatikusumo lahir disurakartan pada 1 juli 1917  putra  kedua  dari  lima  bersaudara dari pasangan sinuwun paku  buwono  X  ( PB X )  dengan  ibu  R.A.kironorukasi.  Sejak kecil diasuh oleh kedua orang tuanya dalam lingkungan keraton surakarta. Menempuh pendidikan umum mulai dari europesches lagereschool (ELS) di solo(1924-1931) melanjutkan ke hogere burger school (HBS) di bandung (1931-1936) kemudian melanjutkan ke technische hage school(THS) di delft, (1936-1939), baru menginjak tingkat III pecah perang dunia II, akhirnya pindah ke THS bandung sekarang ITB (1939-1941) namun belum sempat meraih gelar keserjanaan karena merambahnya perang dunia ke II ke indonesia, sehingga menuntut
yang bersangkutan terjun ke dunia militer. Beliau mengakhiri masa
lajangnya dengan menyunting seorang gadis raden ayu suharsi widyanti,putri bangsawan keraton mangkunegara solo pada 1 juni 1947, dikaruniai tiga orang putri.

Anak Raja menjadi Tentara!
Pada masa itu memang aneh jika ada dari kalangan bangsawan atau pangeran putra raja yang berminat untuk menjadi prajurit militer. Biasanya hanya dari kalangan masyarakat biasa saja yang tertarik untuk masuk dinas militer.Namun fenomena itu tidak berlaku untuk seorang putra bangsawan keraton surakarta G.P.H.Djatikusumo G.P.H.Djatikusumo mengawali dunia keprajuritan sejak masa kolonial belanda dengan memasuki milisi corps opleiding reserve officieren     ( CORO ) yaitu sekolah perwira cadangan dibandung yang dibentuk Belanda untuk menghadapi perang melawan Jepang.
setelah jepang menang atas belanda, Jepang memanggil pemuda indonesia untuk mengikuti pendidikan militer sesuai UU Osama Sirei No.44 tahun 1943 yang disebut PETA di Bogor, dimana salah satu siswanya G.P.H.Djatikusumo( Angkatan I-1943-1944 ). Selesai mengikuti pendidikan PETA, Jabatan yang dipegang olehnya adlah Danki I Yon I PETA Surakarta ( Maret 1944- Agustus 1945 ). Beliau sempat mengikuti kursus kendo disurabaya, kursus perwira staf di Jakarta ( 1950 ) dan kursus atase militer di Jakarta ( 1951 ).Pada permulaan pembentukan BKR,G.P.H.Djatikusumo menjabat sebagai komandan BKR di Solo dengan pangkat Mayor. Selanjutnya BKR berubah menjadi TKR beliau menjabat sebagai Danyon I TKR( Tentara Keamanan Rakyat )bertempat tinggal di Benteng Vesternburgh Surakarta. Kemudian beliau memimpin Divisi IV dan membentuk 3 Resimen, Masing-masing memiliki 4 Batalyon yang wilayahnya meliputi daerah pekalongan,Semarang dan Pati(November 1945-Juni 1946).Selanjutnya menjabat sebagai panglima Divisi V/Ronggolawe Jawa Timur, meliputi Pati, Madiun dan Bojonegoro ( Juni 1946-Pebruari 1948 ).Di tahun 1948
G.P.H.Djatikusumo diberi kepercayaan menjabat sebagai KSAD
( yang pertama )dan merangkap sebagai Gubernur AKMIL dengan pangkat Kolonel( 1948-1949 ). Pada Agustus 1950-Maret 1952 dipercaya menjabat sebagai kepala Biro perancang Operasi Militer Kementrian Pertahanan di Jakarta dan Kepala Biro Pendidikan Pusat Kementrian Pertahanan di Jakarta kemudian pada bulan April 1952-1955 menjabat komandan SSKAD ( sekarang seskoad ) di Bandung. Dan terhitung mulai bulan April 1955-Agustus 1958 sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat di Jakarta dengan
pangkat Brigadir Jenderal. Ini berarti bahwa jabatan beliau menurun dari KSAD menjadi kepala Biro,dan SSKAD,DIRZIAD. Walaupun kemudian beliau tidak pernah mengeluh.

Pengalamanya semakin lengkap, dengan dipercaya menjabat di Bidang Pemerintahan G.P.H.Djatikusumo pada tahun 1958 menjadi Konsul Jenderal RI di Singapura, tahun 1959 menjadi Menteri Perhubungan Darat,Postel dan pariwasata dengan pangkat Mayor Jenderal.Pada tahun 1963 beliau diangkat menjadi Dubes RI untuk diMalaysia. Tahun 1965 menjadi Dubes RI di Maroko.
Tahun 1967 menjadi Dubes RI di Perancis,dan tahun 1959 Pati dapat SUAD.
Tahun 1973 memasuki masa purna tugas dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal TNI dan dianugerahi pangkat Jenderal TNI kehormatan TMT 01-11-1997. Puncaknya Gusti Pangeran Haryo Djatikusumo adalah dikukuhkan/diabadikan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Republik Indonesia Nomor 073/TK/ tahun 2002,tanggal 6 November 2002.

Jalan Berliku .
Banyak liku-liku perjalanan hidup kemiliteran yang dialami
G.P.H.Djatikusumo,antara lain:
Pada Oktober 1945 ketika pasukan Jepang menyerang sektor Semarang
Selatan, Mayor G.P.H.Djatikusumo sedang perjalan ke Solo untuk mengambil
meriam. Akan tetapi sesampainya di Solo beliau mendapat Telegram dari
oerip Sumohardjo yang memerintahkan agar segera ke Jakarta untuk
membantu tugas oerip diMarkas Komando Jakarta. Pada saat di Cikampek
mendapat kabar bahwa Markas di Jakarta telah pindah di Bandung, kemudian
beliau memutuskan untuk kembali ke Solo dengan tujuan agar berada
ditengah-tengah anak buahnya.Namun setelah tiba diSolo jabatan beliau
sudah digantikan oleh Pangeran Purbonegoro. Pada November 1945-juni 1946
beliau menjabat Panglima Divisi IV TKR bermarkas diSalatiga dengan
pangkat Jenderal Mayor,selanjutnya pada Juni 1946-pebruari 1948 menjabat
panglima Divisi V Ronggolawe TNI bermarkas di Mantingan Blora kemudian
pindah ke Cepu dengan pangkat Kolonel, akibat kebijaksanaan RERA
(Reorganisasi dan Resiolisasi), jabatan yang beliau emban sama, tetapi
pangkatnya turun dari Jenderal Mayor ke Kolonel. Terhitung Pebruari 1948
beliau menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat( KSAD ) dalam
Kementrian bermarkas di Jogjakarta, pada November 1948 merangkap sebagai
Gubernur Akmil dan pada tahun 1949 jabatan Kasad diserahterimakan kepada
Kolonel A.H Nasution .Pada April 1952-Maret 1955 beliau menerima tugas
jabatan Komandan SSKAD di Bandung sekarang dikenal Seskoad dari Letkol
inf A.J Mokoginta. Kemudian terhitung mulai april 1955 Agustus 1958
sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat.

Makna hidup seorang prajurit Djatikusumo
Salah satu fenomena yang menggelisahkan di kalangan saat ini adalah
muncul kecenderungan melemahnya loyalitas terhadap keputusan-keputusan
Pimpinan dan Komandan misalnya ungkapan tidak puas atas keputusan
pimpinannya, bergesernya orientasi dari melaksanakan tugas menjadi
mencari posisi sesuai selera,kecenderungan lebih banyak menuntut hak
dari pada memenuhi kewajiban. Hasil dari semua itu adalah hilangnya
kerelaan dan lebih banyak menerima/meminta.Sebagai prajurit tentu tidak
menghendaki kecenderungan ini terus berlanjut. Dalam konteks ke depan,
ada baiknya menengok kembali pengalaman-pengalaman seperti yang
ditampakkan oleh G.P.H. Djatikusumo. Bagaimana liku – liku perjalanan
hidup kemiliteran yang dialami G.P.H. Djatikusumo sebagai seorang
Bangsawan dengan segala kehormatannya rela ditinggalkan menjadi prajurit
sejati. Dalam sejarah tercatat bagaimana beliau diturunkan pangkatnya
menjadi Jenderal Mayor menjadi Kolonel padahal saat itu beliau menjabat
Kasad orang pertama di Angkatan Darat. Belum lagi beliau harus bersedia
tunduk dan taat kepada pimpinan yang dahulu mantan anak buahnya. Bahkan
dengan tulus ikhlas menerima sebagai jabatan di instansi yang lebih
rendah di lingkungan Angkatan Darat, seperti menjadi Komandan
SSKAD(Seskoad-sekarang). Direktur Zeni dan masih banyak lagi.
Banyak nilai-nilai yang dapat dipetik dari liku-liku perjalanan
karier G.P.H. Djatikusumo, antara lain :
1.Sebagai prajurit beliau tidak hanya loyal namun lebih dari itu adalah
seorang yang rendah hati, dan berjiwa besar kepada kepentingan bangsanya.
Berbicara loyalitas dan kerendahan hati G.P.H.Djatikusumo. Jenderal
besar A.H mengungkapkan Berkali-kali pindah bahkan turun tingkat jabatan,
namun tidak pernah protes. Bahkan G.P.H. Djatikusumo mengatakan:
Yang penting bukan jabatannya tetapi yang penting adalah
tugasnya Hal ini memberi gambaran kepada kita bahwa beliau
selalu loyal akan perintah dan tidak memilih-milih tugas atau
jabatan.
2.Sebagai sosok seorang prajurit yang sepi ing pamrih rame ing gawe.
Sosok pekerja keras dan penuh pengorbanan serta tidak pernah
mengharapkan imbalan jasa.Bahkan G.P.H. Djatikusumo pada amanat
perpisahan saat serah terima Dirziad,menyatakan :Usaha untuk mengabdi
pada negara dan rakyat indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan
kedaulatan, dan dalam mengejar cita-citanya,suatu negara yang aman, adil
dan makmur,meminta pemerasan keringat setiap hari ,bahkan di iringi
cucuran air mata dan pengorbanan jiwa….
3.Sosok prajurit yang yakin akan kebenaran tugas yang telah diberikan
oleh pimpinan kepadanya ,tidak ada ambisi pribadi dalam dirinya. Dalam
melaksanakan tugas selalu didasarkan pada semangat pengabdian yang
diwujudkan dalam sikap dan prilaku yang dilandasi keikhlasan berkorban,
berjuang dan berbhakti yang tidak mengenal menyerah,tahan menderita
serta senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dari pada
kepentingan pribadinya.Hal ini dilakukanya bukanya tampil beda atau ikut
ramai dengan kondisi waktu itu tetapi lahir dari suatu prinsip yang
luhur demi tetap tegaknya NKRI.
4. Sosok prajurit yang yakin dan percaya sepenuhnya terhadap
apa yang diputuskan oleh pimpinan/komandanya karena pimpinan
adalah orang yang diamanatkan tuhan melalui pemerintah untuk melaksanakan
suatu tugas.Kepatuhan terhadap pimpinan itu diyakini benar bahwa apa yang
telah diputuskan oleh pimpinan/komandan adalah hal terbaik karena sudah
melalui suatu proses yang panjang dan matang.Dalam hal ini tepatlah apa
yang dikatakan oleh G.P.H.Djatikusumo bahwa salah satu sumber kejayaan
Angkatan Bersenjata RI adlah mutu pemimpin dan kepemimpinannya.

Masih adakah Djatikusuma-Djatikusuma di Angkatan Darat.
Ditengah upaya bersama untuk membentuk dan merajut kembali
semangat juang akibat bergesernya pemahaman nilai-nilai perjuangan,
maka sudah waktunya untuk Meneladani sosok seorang Djatikusumo.Hal ini
menjadi
penting karena bukanlah para prajurit yang pernah bersumpah …….masih
ingatkah akan sumpah kita kepada Tuhan YME .Demi allah saya bersumpah/
berjanji :
bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Rupublik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945:bahwa saya akan tunduk kepada hukum dan memegang teguh
disiplin keprajuritan; bahwa saya akan taat kepada atasan dengan tidak
membantah perintah atau putusan ; bahwa saya akan taat kepada atasan
dengan tidak membantah perintah atau putusan;bahwa saya akan menjalankan
segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada tentara dan
Negara Rupublik Indonesia; bahwa saya akan memegang segala rahasia
tentara sekeras-sekerasnya. Sumpah merupakan satu tekad seseorang
dihadapan Tuhan YME bahwa ia akan berfikir , beramal,dan berkarya sesuai
dan tidak menyimpang dari isi sumpah yang diucapkanya. Sumpah juga
merupakan mekanisme kontrol diri yang menempel terus selama masalah
( tanggung jawab,tugas , jabatan , fungsi, peran maupun posisi ) yang
diterima sebagai amanah masih dilaksanakan . Maka agar para Prajurit
tidak termakan sumpah, sudah selayaknya belajar dari sosok seorang
G.P.H. Djatikusumo .Menjadi keyakinan bersama bahwa jabatan bukanlah
fasilitas pribadi maupun hadiah; jabatan adalah satu tanggung jawab dan
amanah yang harus dipertanggung jawabkan didunia dan di akhirat jadi
tidak dikejar atau dicari apalagi meminta.
Jabatan adalah fasilitas pengabdian dan berkarya untuk kemaslahatan
masyarakat melalui TNI Angkatan Darat . Janganlah terlintas dalam benak
untuk memperoleh sesuatu yang melanggar sumpah ,gunakan kata hati yang
sangat kuat untuk memegang teguh makna kata-kata dalam sumpahnya .Bila
melanggar sumpah berarti menghianati Tuhan YME.Kalau tuhanpun dikhianati,
apalagi Bangsa dan Negara maupun TNI Angkatan Darat . Panglima Besar
Jenderal Sudirman berpesan Jangan sekali-kali diantara tentara kita ada
yang menyalah janji, menjadi penghianat nusa, bangsa dan agama, harus
kamu sekalian senantiasa ingat, bahwa tiap-tiap perjuangan tentu memakan
korban, tetapi kamu sekalian telah bersumpah ikhlas mati untuk membela
temanmu yang telah gugur sebagai ratna, lagi pula untuk membela nusa dan
bangsa dan agamamu,sumpah wajib kamu tepati.

Bagaimana dengan kita !Mari belajar dari sosok G.P.H.Djatikusumo.
Jangan khianati perjuangan dan pengorbanan beliau yang begitu besar.
Ingat …..Belajarlah dari sejarah , agar menjadi cerdik, pandai,
bijaksana dan berilmu …Sejarah adalah guru kehidupan,oleh karena
itu belajarlah dari sejarah menjadi arif…Para Prajurit dituntut
untuk introspeksi dengan selalu bercermin pada peristiwa-peristiwa
dimasa lampau dan selanjutnya dijadikan acuan dalam meningkatkan dan
memantapkan kondisi mental kejuangan dirinya sehingga dapat
mengantisipasi dn menghadapi berbagai permasalahan tugas dimasa yang
akan datang dengan baik tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Prajurit
Sapta Marga. Jangan sempat melakukan sesuatu yang tidak terhormat,
betapapun kecilnya hal itu akn sangat merendahkan martabat TNI dan
diri sendiri.
Prajurit sejati tidak menangis oleh kematian , tidak pernah berkeluh
kesah karena pangkat dan jabatan, tidak pernah menyerah dalam perjuangan
serta rela berkorban untuk Nusa dan Bangsa. Kebanggan sejati seorang
Prajurit bukan terletak paada pangkatnya, jabatan ,dan atau kekayaanya,
melainkan bukti-bukti kesejatian keprajuritanya dan praktek-praktek
keteguhan keperwiraanya. Prajurit yang baik haruslah mampu mengabaikan
kepentingan yang lebih besar. Dibutuhkan ketaatan penuh dan kesetiaan
total kepada komandannya dan kesiapan untuk berkorban , Ingat
pesan G.P.H. Djatikusumo Kesetiaan bukan pilihan.Sepi ing pamrih rame
ing gawe. (Bekerja keras penuh pengorbanan tidak mengharapkan imbalan
jasa) .

Diterbitkan oleh : DINAS SEJARAH ANGKATAN DARAT Jl . Belitung No . 6 Bandung

Posted in History | Leave a comment

BATUJAJAR ENGINEERS SCHOOL

The Efforts to provide education for Army Engineers  started in 1945 with trying to open a School of Genie in Batujajar on November 2nd, 1945 founded by Achdiyat Soeparmadi, assisted by ex KNIL sergeants as trainers allow Captain Adam to form Pioneer Battalion Genie by the trainers and students as its core.

This education is very short due to circumstances and conditions is not possible because the resistance of the 8th Regiment,  Div I / Siliwangi lead by Major BP Oman Abdurahman who received one Genie Company lead by  Kromo Sentono  of the newly formed Genie Battalion, on the arrival of British and NICA towards Bandung with the aim of repatriating Japanese prisoners of war.

After the fall of Ciatul , Tegalega and Batujajar got such a vigorous Arteleri attack in mid-January 1946, 8th Regiment was forced to move where, Genie troops left Batujajar and follow 8th Regiment movement from Citapen-Cimaung to Ciparay.

Syahrir Cabinet rely on diplomacy approved the allied demands, although the Warriors do not trust them anymore, but because of obedience to orders from superiors, Bandung had to be abandoned, but before resigning Forces held a general attack on March 24, 1946, beginning promptly at 22:00 .

Engineer is not much activity other than holding prominent destruction in the city of Bandung on buildings and obstacles, the rest more as infantry duty, according to the desired state of that time

Posted in History | Leave a comment

ENGINEERS CADRE SCHOOL KLECO/NGENDRO SOLO

As the trainers did not despair, the noble ideals they continue on the other place that can give the possibility of more freely. And on February 23, 1946 Genie Cadre Schools were opened back in Solo, Central Java.

Genie Cadre School in Kleco / Ngendro Solo educate 100 students consisted of 10 Officers, 32 NCOs and 58 Enlisted.

DUTCH  FORCES LANDING (20/21 July 1947)

Agresi Milter Belanda I (21 Juli 1947)

The Dutch launched a general attack in the first Dutch military aggression (Code Name: Operatie Pruduct: 21 July-5 August 1947) on Sumatra and Java

with the main landing at Pasir Putih of East Java.

West Java sector conducted from Cirebon and Jakarta to Bandung.

They can move fast because the Road and Bridge is still intact, it is because at the time British troops have not withdrawn from Indonesia, the streets were used to transport prisoners of Japan on the basis of approval from the Indonesian Government and the British.

With the Dutch attack. Warriors troops pressed in pockets, but the Dutch effort to destroy us without success. Siliwangi Division Headquarters moved to Tasikmalaya including Wehrkreise which is under the command of Colonel Hidayat. Dutch in an attempt to seize Sukabumi, Suryakencana Brigade pushed back, but still managed to engineer units conducting a scorched earth

in subsequent consolidation we use smaller units to counterattack with the attack and dodge tactics (hit and run).

engineer troops in the infantry company, or a independent from these pockets with the help of the people blocking every road, either by destroying the bridge nearby,

create hurdles tankval or by cutting down large trees.

every time an obstacle is in the clear by the enemy in their efforts to reach out and attack our positions, each time also engineers can quickly close it again

The next step is to conduct sabotage and ambush, which generally worked well. In the month of August 1947 Genie troops managed to blow up Cimanuk bridges in Garut

but paid by death of brother Okan

Toward a ceasefire regarding the approval of Renville, 3 members of Genie S. Mantan, Dahlan and Suratmin who served in bungbulang / Garut were arrested in Kebon Waru.

On orders Siliwangi Division as the realization of the Renville agreement, all troops who are in the pockets to retreat into the Van Mook line, in this case the line connecting Tegal with Gombong.

Genie troops led by Captain Adam and Lieutenant Saring go directly to Solo by train. Genie troops in Cepu in the next drag to Solo become one by the other Genie troops then in place in the factory Sisai, Kawanami and were boarded in Klico Purwosari. in February 1948 Captain Adam resigned as commander of Battalion and replaced by Captain Joseph Sumodihardjo. First Lieutenant Sofrandy as his deputy, as a result of a prisoner exchange agreement of Indonesia and the Dutch Army,  S. Manta, Dahlan and Suratmin back into our midst.

Widening war by Dutch after Dutch launched the second Dutch Military Aggression  (Codename: Operatie Kraai or Operation Crow 12/19/1948) that begins by attack on Yogyakarta, the capital of Indonesia at the time, and eventually Solo became the basis for Dutch forces. closes the possibility to continue our efforts in the field of education, so they have stopped.

agresi belanda II

Under the Lightning command of Commander  Sudirman no 1 Date December 19, 1948 at 8:00 AM all troops back to  the guerrillas pockets.

 

Posted in History | Leave a comment

DEPOT PASUKAN GENIE

After the recognition of sovereignty by the Netherlands (RTC) in 1949

By submission Engineers Troops Depot Bogor with all the facilities that exist, then the consolidation have been performed in preparation for reopening Engineers school.

Realization of Genie school reopening in time to adjust the handover Depot Genie troops from the Netherlands (KNIL) to the Army that took place on 15 April 1950. The next day that date is known as “Pusdikzi anniversary” based on the Army’s decision letter No: 263/KSAD/KPTS/1954 dated 27 September 1954, and place it in the name of Depot Pasukan Genie led by Major Suratin Purwowikarto.

Since Depot Genie troops stand so the wheel of education began to be carried on, first of all with the aim to improve the ability of personnel / forces that will fill in the formation Bn Bn Gi-Pi (Genie pionier battalions), and the second for general recognize the use of Genie equipment are received from the Dutch.

to strengthen the team of trainers, then accordance with the  RTC agreement, in this transitional period, Dutch sould sent the Military Mission Team (NMM), in place at the Depot Genie Troops led by Captain Flohr (as second in command captain Loonen).

The use of NMM is set by Army Chief of Staff Instruction No.56/Instr/KASAD/51 dated 19-4-1951. we have learned a lot from NMM mainly related to technical engineers.

In order to
moving the organization’s educational activities as needed, then on 10 to October 14, 1951 was decided in education that need
held are:
1). Private Education (Tamtama).
2). NCO Education.
3). OfficerEducation .
4). Officer replications Education .

The purpose of education is to fill in knowledge and abilities that should be owned by each particular class rank according to the desired level of qualification.

This is based on the fact, that the real extent of our knowledge at that time was still not adequate because since the outbreak of the Revolution until the time was still too little to have the opportunity to participate in education.

Wave after wave of troops studied in Depot Pasukan Genie began to fill in the sciences and engineering skills, especially for the NCOs and officers. to that extent curriculum in use is what is received as an inheritance from the Netherlands, with its original terms. This raises a lot of hardship for members who do not master the Dutch language.

Yet thanks to a strong coaching discipline and a sense of intelligence that is generally needed in realized by the members, each and every generation of education turned out to have been able to complete learning tasks successfully.

Posted in History | Leave a comment

FROM PPGIAD TO PUSDIKZI

Pusat Pendidikan Genie AD (PPGIAD) from Year 1955 to 1958 (By letter’s Army Chief of Staff.No 129/KSAD/kpts/55 date 31-5-55)

As follow-up of Army Chief of Staff letter No.128/KSAD/kpts/55 decision dated 31-3-1955, on the same date letter No.129/KSAD/kpts/55 KSAD out decision, about the changes in the composition of all Genie educations (3 educations), become one center of education Indonesian Army Engineer (PPGIAD), which includes education for Officers,NCOs and Enlisted Engineers or Genie AD.

In addition to conducting exercises in accordance with its own task, DPG / PPGIAD participate actively forming new officers, especially the education base Pioneer Infantry / engineering techniques to students from  ATEKAD generation I and III, because the facilities at the Academy of Genie yet complete enough to support the operation of education.

The task of education that needs to be noted in 1955 is to educate 35 soldiers from the Ex “Pagar Ruyung” , in a step to move weaponry ( corps )to engineers, which lasted from July 1955 until July 1956, and provide education secaba Genie II, started 8-1 – 1955 untill 16-4-1955 a number of 32 persons.

at the beginning of 1956 with the turn of the head of Directorate Genie from Major R. Soetejo to Colonel GPH Djati Koesoemo, PPGIAD development becomes increasingly apparent. how important this PPGIAD role in order to develop corps, implied in a speech Genie Director (Colonel Djati Koesoemo) at the time of first inspection to PPGI AD, states that “to know the overall quality of its Genie Corps do not need to bother reviewing the area-area, but just enough rate of this PPGIAD  “.

Pusat Pendidikan Zeni (PPZI-AD) between 1958 to  1959.

Education was held, among others SECAPAZI II, some 45 people, from 27-11-1958 till 5-9-1959.

Resimen Induk Zeni (RINZI) between 1960 to  1963 (Letter from Kasad No : sp-1673/10/1959 date 24-10-1959.

Based on this determination, the education agency to Zeni which is under the Command of education and training (koplat) is called Resimen Induk Zeni (RINZI).

Pusat Pendidikan Zeni (PUSDIKZI/KOPLAT), between 1963 to 1970.

By changing the task organization of RINZI be back to pusdikzi, then pusdikzi was under command of the training center ( KOPLAT ).

At this time also started beyond the Engineer technical education in Pusdikzi such as education for Military Instructor (gumil). Kupan Gumil Zeni I which opened on 1-5-1969, Kupan Gumil II (9/7/69 until 25/9/69), Gumil Susbangumil Bags and Ba (1970).

Pusat Pendidikan Zeni (PUSDIKZI/PUSZI), between 1970 to 1978 (No.kep/731/12/1970 dated 18-12-1970 about pengesahan organisasi dan tugas PUSZIAD.

With this task organization changes mean pusdikzi under the central organization Zeni.

At this time in addition to conducting education Technical Engineers,

also held Education Intelligence such as Suspa Intel, Mospa Intelpur, Ba Intelpur, Mosba Intelpur, Mosba Intelpam, Susbasutpam, susjurba intelpur, Intel Terr, etc. start of 1971 until the year 1979/80 (PusdikIntel Ciomas’s Building began to be used for education),

whereas gumil Education held only until the year 1971 namely Suspan Gumil Pa Hankam, Suspan Gumil Suspan Gumil Pa and Ba

Pusat Pendidikan Zeni (pusdikzi/kobang Diklat TNI AD), between 1978 to 1985 (Skep kasad No: kep-132/3/1971 dated 13-3-1971 about organisasi dan pusat pendidikan Zeni)

With this task organization changes pusdikzi back then under the command of Komando pengembangan pendidika dan latihan TNI AD (kobang Diklat TNI AD)

Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi/Didziad) between 1986 to 2003 (Skep KASAD Nomor : kep/82/XI/1985 dated 27-11-85 about orgas pusdikzi.

With this task organization changes, the organization pusdikzi back under the Directorate of Army Engineers (DITZIAD).

Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi Kodiklat TNI AD) between 2003 untill now (Skep KASAD Nomor : kep/ 17 /IV/2003 dated April 2003 about Perubahan Pusdikzi dibawah Kodiklat TNI AD

By changing the task organization pusdikzi organizations back under the Kodiklat TNI AD (Army Tradoc) accepted until now.

Posted in History | Leave a comment

SEKOLAH GENIE BATUJAJAR

Upaya untuk menyelenggarakan pendidikan Zeni TNI AD sudah dimulai sejak tahun 1945 dengan mencoba membuka Sekolah Genie di Batujajar pada tanggal 2 November 1945 oleh Sdr.Achdiyat Soeparmadi,dibantu ex sersan-sersan KNIL sebagai pelatihnya memungkinkan Kapten Adam untuk membentuk Batalyon Genie Pioner dengan para pelatih dan siswa sebagai intinya.

Umur pendidikan ini sangat pendek akibat situasi dan kondisi tidak memungkinkan karena perlawanan dari Resimen 8 Div I/Siliwangi pimpinan Mayor Oman Abdurahman yang  menerima BP 1 Kompi Genie pimpinan Kromo Sentono dari Batalyon Genie yang baru terbentuk terhadap kedatangan Inggris dan NICA kearah Bandung dengan tujuan memulangkan tawanan perang jepang.

Setelah Ciatul jatuh,Tegalega dan Batujajar mendapat serangan Arteleri sedemikian gencarnya pada pertengahan Januari 1946, Resimen 8 terpaksa berpindah-pindah tempat, Pasukan Genie meninggalkan Batujajar dan mengikuti gerakan Resimen 8 dari Citapen-Cimaung sampai ke Ciparay.

Kabinet Syahrir mengandalkan Diplomasinya menyetujui tuntutan pihak sekutu,walaupun Para Pejuang tidak mempercayai lagi omongan mereka,tapi karena taat dengan perintah dari atasan dengan sangat berat Bandung terpaksa ditinggalkan,tapi sebelum mengundurkan diri Pasukan mengadakan serangan Umum pada tanggal 24 Maret 1946 yang dimulai tepat jam 22.00.

Kegiatan Zeni tidak banyak menonjol selain mengadakan perusakan pada gedung2 di kota bandung dan rintangan2,selebihnya lebih banyak melaksanakan tugas sebagai Infantri,sesuai keadaan yang dikehendaki waktu itu

Posted in History | Leave a comment

SEKOLAH KADER GENIE KLECO/NGENDRO SOLO

Sebagai para pelatih tidak putus asa, cita-cita yang luhur ini mereka teruskan dilain tempat yang dapat memberi kemungkinan lebih leluasa. Dan pada tanggal 23 pebruari 1946 dibukalah kembali Sekolah Kader Genie di Solo Jawa Tengah.

Sekolah Kader Genie di Kleco/Ngendro solo  mendidik 100 siswa terdiri dari 10 orang Pa, 32 Ba dan 58 Ta.

PENDARATAN PASUKAN BELANDA (20/21 Juli 1947)

Belanda melancarkan Serangan umum dalam agresi militer Belanda ke I (Code Name: Operatie Pruduct :21 Juli-5 agustus 1947)terhadap Sumatra dan Jawa

dengan Pendaratan utama di Pasir Putih Jawa Timur.

Sektor Jawa Barat dilakukan dari arah Cirebon dan Jakarta menuju Bandung.

Mereka dapat bergerak cepat karena Jalan dan Jembatan masih utuh,ini disebabkan karena pada waktu Tentara Inggris belum ditarik dari Indonesia jalan-jalan ini dipergunakan untuk pengangkutan tawanan Jepang atas dasar persetujuan Pemerintah dan Inggris.

Dengan adanya serangan Belanda ini. Pasukan pejuang terdesak dalam kantong-kantong, namun usaha Belanda untuk menghancurkan kita tak berhasil. Markas Divisi Siliwangi di pindahkan ke Tasikmalaya termasuk Wehrkreise yang berada di bawah pimpinan Kolonel Hidayat. dalam usaha Belanda untuk merebut Sukabumi, Brigade Suryakencana terdesak mundur namun satuan-satuan zeni masih sempat melaksanakan bumi hangus.

dalam konsolidasi selanjutnya kita mengunakan satuan-satuan kecil untuk mengadakan serangan balasan dengan taknik menyerang dan menghindar (hit and run).

pasukan-pasukan zeni yang berada di kompi-kompi infantri, maupun yang berdiri sendiri dari kantong-kantong ini dengan bantuan rakyat memblokir tiap-tiap jalan terdekat baik dengan merusak jembatan,

membuat tankval maupun halang rintang dengan menebang pohon-pohon besar.

tiap kali rintangan ini di bersihkan oleh musuh dalam usaha mereka untuk mendekati dan menyerang kedudukan kita, tiap-tiap kali pula zeni segera dapat menutupnya kembali.

langkah selanjutnya adalah mengadakan sabotase dan penghadangan-penghadangan yang pada umumnya berhasil dengan baik pada pada bulan agustus 1947 pasukan Genie berhasil meledakan jembatan cimanuk di Garut

namun harus di bayar dengan gugurnya saudara Okan.

Menjelang adanya gencatan senjata berkenaan dengan persetujuan Renville, 3 anggota Genie S.Mantan, Dahlan dan Suratmin yang bertugas di bungbulang/Garut dalam suatu serangan Belanda dapat di tangkap dan di tawan di kebon Waru.

Atas perintah Divisi Siliwangi sebagai realisasi persetujuan Renville maka semua pasukan-pasukan yang berada di kantong-kantong agar mundur ke dalam garis Van Mook dalam hal ini garis yang menghubungkan Tegal dengan Gombong.

pasukan Genie yang di pimpin oleh Kapten Adam dan Letnan Saring langsung menuju ke Solo dengan kereta api. Pasukan Genie yang ada di Cepu selanjutnya di tarik ke Solo menjadi satu dengan pasukan Genie lainnya yang di tempatkan di pabrik Sisai,Kawanami dan diasramakan di Klico Purwosari. pada Februari 1948 Kapten Adam mengundurkan diri sebagai Komandan Batalyon dan di ganti oleh Kapten Yusuf Sumodihardjo  dengan Lettu Sofrandy sebagai wakilnya,sebagai hasil dari persetujuan tukar menukar tawanan Tentara RI dan Belanda maka S.Manta, Dahlan dan Suratmin kembali ke tengah-tengah kita.

Peperangan dengan Belanda makin meluas setelah Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II (CodeName: Operatie Kraai atau Operasi Gagak 19/12/1948) yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, dan Kota Solo akhirnya menjadi basis kekuatan Belanda. menutup kemungkin untuk melanjutkan usaha kita dibidang pendidikan, sehingga terpaksa dihentikan.

Berdasarkan Perintah Kilat no 1 dari Panglima Sudirman tgl 19 Desember 1948 pkl 08.00 seluruh pasukan kembali ke kantong-kantong gerilya.

Posted in History | Leave a comment

DEPOT PASUKAN GENIE

Setelah Pengakuan Kedaulatan oleh Belanda (KMB) 1949

Menjelang penyerahan Depot Genie Troepen Bogor dengan segala fasilitas yang ada, maka telah di laksanakan konsolidasi sebagai persiapan untuk membuka kembali sekolah Genie.

Realisasi pembukaan kembali sekolah Genie ini di sesuaikan waktunya dengan serah terima Depot Genie Troepen dari pihak Belanda (KNIL) kepada TNI AD yang berlangsung pada tanggal 15 april 1950. selanjutnya tanggal peristiwa tersebut didirikan “Hari jadi Pusdikzi TNI AD” berdasarkan surat keputusan Kasad No : 263/KSAD/KPTS/1954 tanggal 27 september 1954, serta tempat pendidikan Zeni ini di namakan Depot pasukan Genie di pimpin oleh Mayor Suratin Purwowikarto.

Sejak Depot pasukan Genie berdiri maka roda pendidikan mulai di laksanakan, pertama-tama dengan tujuan untuk Meningkatkan kemampuan personil/pasukan yang akan di isikan pada formasi Bn-Bn Gi Pi (batalyon-batalyon Genie pionier), dan ke dua agar secara umum mengenal penggunaan peralatan Genie yang di terima dari belanda.

untuk memperkuat tim pelatih, maka sesuai dengan  perjanjian KMB, dalam masa transisi ini oleh Belanda di perbantukan Tim Misi Militer (AMM), di tempatkan di Depot Pasukan Genie di pimpin oleh kapten Flohr (sebagai wakilnya kapten Loonen).

Penggunaan tenaga NNM ini di atur dengan Instruksi KASAD No.56/Instr/KASAD/51 tanggal 19-4-1951. kita telah belajar banyak dari NMM terutama yang berhubungan dengan tehnik zeni.

Guna dapat
menggerakkan kegiatan pendidikan sesuai kebutuhan organisasi, maka pada tanggal 10 s/d 14 Oktober 1951 telah diputuskan dalam pendidikan yang perlu
diselenggarakan adalah :
1). Pendidikan Prajurit (Tamtama).
2). Pendidikan Bintara.
3). Pendidikan Perwira.
4). Pendidikan ulangan Perwira.

Tujuan dari pendidikan adalah mengisi pengetahuan-pengetahuan dan kemampuan-kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap golongan kepangkatan tertentu sesuai dengan taraf kwalifikasi yang dikehendaki.

hal ini di dasarkan atas kenyataan, bahwa sesungguhnya taraf pengetahuan kita saat itu masih belum memadai karena sejak pecahnya Revolusi sampai saat itu masih terlampau sedikit yang mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan-pendidikan.

Gelombang demi gelombang pendididkan Depot Pasukan Genie mulai mengisikan ilmu-ilmu dan kecakapan tehnik, terutama bagi para bintara dan perwira-perwira. sejauh itu kurikulum yang di pergunakan adalah apa yang di terima sebagai warisan dari Belanda, dengan istilah-istilah aslinya. Hal ini menimbulkan banyak kesukaran bagi para anggota yang tidak menguasai bahasa Belanda.

Meskipun demikian berkat pembinaan disiplin yang kuat serta perasaan butuh kepandaian yang pada umumnya di sadari oleh para anggota, tiap-tiap angkatan pendidikan ternyata telah dapat menyelesaikan tugas belajarnya dengan sukses.

Posted in History | Leave a comment

DARI PPGIAD KE PUSDIKZI

Pusat pendidikan Genie AD (PPGIAD) antara tahun 1955 s/d 1958 (berdasarkan keputusan KSAD No. 129/KSAD/kpts/55 tanggal 31-5-55)

Merupakan tindak lanjut dari keputusan KSAD No.128/KSAD/kpts/55 tanggal 31-3-1955 maka pada tanggal yang bersamaan (31-5-1955) keluarlah keputusan KSAD No.129/KSAD/kpts/55, tentang perubahan usunan pendidikan-pendidikan Genie Bogor (3 pendidikan), menjadi pusat pendidikan Genie AD (PPGIAD), yang meliputi pendidikan-pendidikan Pa, Ba dan Tamtama Genie AD.

Selain melaksanakan latihan-latihan sesuai dengan tugas nya sendiri, DPG/PPGI PI AD ikut serta aktif membentuk perwira-perwira baru, khusus nya pendidikan basis Infantri Pionir/teknik Genie terhadap siswa Akademi Genie angkatan I dan III, karna fasilitas-fasilitas di Akademi Genie belum cukup lengkap untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan.

Tugas pendidikan yang perlu di catat pada tahun 1955 adalah mendidik Ex”Pagar Ruyung” sejumlah 35 prajurit,dalam langkah pindah kesenjataan ke Genie, yang berlangsung dari bulan juli 1955 s/d juli 1956 serta menyelenggarakan pendidikan secaba Genie II, mulai 8-1-1955 s/d 16-4-1955 sejumlah 32 orang. pada awal tahun 1956 dengan pergantian pimpinan Direktorat Genie dari Mayor R.Soetejo kepada kolonel GPH Djati Koesoemo, perkembangan PPGIAD menjadi semakin nyata. Betapa penting nya peranan PPGIAD ini dalam rangkap pembinaan korps, terlukis pada amanat Direktur Genie (kol GPH Djati Koesoemo) suatu pertama kali menghadapkan Inspeksi ke PPGI AD, menyatakan bahwa”untuk mengetahui mutu Korps Genie keseluruhan nya saja tidak perlu susah-susah meninjau ke daerah-daerah, tetapi cukup saja menilai dari PPGI AD ini”.

Pusat Pendidikan Zeni (PPZI-AD) antara tahun 1958 s/d tahun 1959.

Pendidikan di selenggarakan antara lain SECAPAZI II, sejumlah 45 orang, mulai 27-11-1958 s/d 5-9-1959.

Resimen Induk Zeni (RINZI) antara tahun 1960 s/d tahun 1963 (berdasarkan surat perintah Kasad No : sp-1673/10/1959 tanggal 24-10-1959, tentang hal pembentukkan Resimen-resimen Induk.

Berdasarkan penetapan ini, maka badan pendidikan untuk Zeni yang berada di bawah  Komando pendidikan dan latihan (koplat) di sebut Resimen Induk Zeni (RINZI).

Pusat Pendidikan Zeni (PUSDIKZI/KOPLAT), antara tahun 1963 s/d tahun 1970.

Dengan perubahan organisasi tugas dari RINZI menjadi pusat pendidikan Zeni kembali,maka pusdikzi berada di bawah komando pusat latihan (KOPLAT).

Pada masa ini dimulai pula pendidikan diluar teknis Zeni yaitu Kupan Gumil I yang dibuka tanggal 1-5-1969,Kupan Gumil II (9/7/69 s.d 25/9/69),Gumil Tas dan Susbangumil Ba (1970).

Pusat Pendidikan Zeni (PUSDIKZI/PUSZI), antara tahun 1970 s/d 1978 (berdasarkan surat keputusan kasad No.kep/731/12/1970 tanggal 18-12-1970 tentang pengesahan organisasi dan tugas PUSZIAD.

Dengan perubahan organisasi tugas ini berarti pusdikzi berada di bawah organisasi pusat Zeni.

Pada masa ini di Pusdikzi selain menyelenggarakan pendidikan Teknis Zeni ,

juga diselenggarakan Pendidikan Intelijen yaitu Suspa Intel,Mospa Intelpur,Ba Intelpur,Mosba Intelpur,Mosba Intelpam,Susbasutpam,susjurba intelpur,Intel terr ,dll mulai Tahun 1971 sampai dengan Tahun 1979/80(Gedung Pusdik Intel Ciomas mulai digunakan untuk Pendidikan),

sedangkan Pendidikan gumil dilaksanakan hanya sampai Tahun 1971 yaitu Suspan Gumil Pa Hankam,Suspan Gumil Pa dan Suspan Gumil Ba karena banyaknya pendidikan kecabangan Zeni dan Intel yang harus dilaksanakan

Pusat Pendidikan Zeni (pusdikzi/kobang Diklat TNI AD), antara tahun 1978 s/d 1985 (berdasarkan surat keputusan kasad No: kep-132/3/1971 tanggal 13-3-1971 tentang organisasi dan pusat pendidikan Zeni)

Dengan perubahan organisasi tugas ini maka pusdikzi kembali di bawah organisasi komando pengembangan pendidika dan latihan TNI AD (kobang Diklat TNI AD)

Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi/Didziad) antara tahun 1986 s/d 2003 (berdasarkan surat keputusan KASAD Nomor : kep/82/XI/1985 tanggal 27-11-85 tentang orgas pusdikzi.

Dengan perubahan organisasi tugas ini maka pusdikzi kembali di bawah organisasi Direktorat Zeni TNI AD (DITZIAD) .

Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi Kodiklat TNI AD) antara tahun 2003 s/d sekarang (berdasarkan surat keputusan KASAD Nomor : kep/ 17 /IV/2003 tanggal April 2003 tentang Perubahan Pusdikzi dibawah Kodiklat TNI AD

Dengan perubahan organisasi tugas maka pusdikzi kembali di bawah organisasi Kodiklat TNI AD yang berlaku hingga sekarang ini.


Aside | Posted on by | 2 Comments