DEPOT PASUKAN GENIE

Setelah Pengakuan Kedaulatan oleh Belanda (KMB) 1949

Menjelang penyerahan Depot Genie Troepen Bogor dengan segala fasilitas yang ada, maka telah di laksanakan konsolidasi sebagai persiapan untuk membuka kembali sekolah Genie.

Realisasi pembukaan kembali sekolah Genie ini di sesuaikan waktunya dengan serah terima Depot Genie Troepen dari pihak Belanda (KNIL) kepada TNI AD yang berlangsung pada tanggal 15 april 1950. selanjutnya tanggal peristiwa tersebut didirikan “Hari jadi Pusdikzi TNI AD” berdasarkan surat keputusan Kasad No : 263/KSAD/KPTS/1954 tanggal 27 september 1954, serta tempat pendidikan Zeni ini di namakan Depot pasukan Genie di pimpin oleh Mayor Suratin Purwowikarto.

Sejak Depot pasukan Genie berdiri maka roda pendidikan mulai di laksanakan, pertama-tama dengan tujuan untuk Meningkatkan kemampuan personil/pasukan yang akan di isikan pada formasi Bn-Bn Gi Pi (batalyon-batalyon Genie pionier), dan ke dua agar secara umum mengenal penggunaan peralatan Genie yang di terima dari belanda.

untuk memperkuat tim pelatih, maka sesuai dengan  perjanjian KMB, dalam masa transisi ini oleh Belanda di perbantukan Tim Misi Militer (AMM), di tempatkan di Depot Pasukan Genie di pimpin oleh kapten Flohr (sebagai wakilnya kapten Loonen).

Penggunaan tenaga NNM ini di atur dengan Instruksi KASAD No.56/Instr/KASAD/51 tanggal 19-4-1951. kita telah belajar banyak dari NMM terutama yang berhubungan dengan tehnik zeni.

Guna dapat
menggerakkan kegiatan pendidikan sesuai kebutuhan organisasi, maka pada tanggal 10 s/d 14 Oktober 1951 telah diputuskan dalam pendidikan yang perlu
diselenggarakan adalah :
1). Pendidikan Prajurit (Tamtama).
2). Pendidikan Bintara.
3). Pendidikan Perwira.
4). Pendidikan ulangan Perwira.

Tujuan dari pendidikan adalah mengisi pengetahuan-pengetahuan dan kemampuan-kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap golongan kepangkatan tertentu sesuai dengan taraf kwalifikasi yang dikehendaki.

hal ini di dasarkan atas kenyataan, bahwa sesungguhnya taraf pengetahuan kita saat itu masih belum memadai karena sejak pecahnya Revolusi sampai saat itu masih terlampau sedikit yang mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan-pendidikan.

Gelombang demi gelombang pendididkan Depot Pasukan Genie mulai mengisikan ilmu-ilmu dan kecakapan tehnik, terutama bagi para bintara dan perwira-perwira. sejauh itu kurikulum yang di pergunakan adalah apa yang di terima sebagai warisan dari Belanda, dengan istilah-istilah aslinya. Hal ini menimbulkan banyak kesukaran bagi para anggota yang tidak menguasai bahasa Belanda.

Meskipun demikian berkat pembinaan disiplin yang kuat serta perasaan butuh kepandaian yang pada umumnya di sadari oleh para anggota, tiap-tiap angkatan pendidikan ternyata telah dapat menyelesaikan tugas belajarnya dengan sukses.

Advertisements

About cosmas97

Guru Militer di Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI AD
This entry was posted in History. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s