PAHLAWAN ZENI AD

Markas Besar Angkatan Darat Dinas Sejarah BALAVIDYA

TELADAN G.P.H. DJATIKUSUMO

( JANGAN MEMIMPIN KALAU TIDAK TAHU SEJARAH ) (JENDERAL TNI KEHORMATAN G.P.H. DJATIKUSUMO)

THE BOY GENERAL
THE BOY GENERAL…inilah  sebutan  media  asing  kepada  jenderal
TNI kehormatan G.P.H.Djatikusumo. Orang pertama yang menjabat pucuk pimpinan TNI AD, berpawakan kecil dengan bentuk wajahnya baby face yang  lembut  dalam  bertutur  bahasa, namun tegas dalam bersikap dan bertindak.G.P.H.Djatikusumo lahir disurakartan pada 1 juli 1917  putra  kedua  dari  lima  bersaudara dari pasangan sinuwun paku  buwono  X  ( PB X )  dengan  ibu  R.A.kironorukasi.  Sejak kecil diasuh oleh kedua orang tuanya dalam lingkungan keraton surakarta. Menempuh pendidikan umum mulai dari europesches lagereschool (ELS) di solo(1924-1931) melanjutkan ke hogere burger school (HBS) di bandung (1931-1936) kemudian melanjutkan ke technische hage school(THS) di delft, (1936-1939), baru menginjak tingkat III pecah perang dunia II, akhirnya pindah ke THS bandung sekarang ITB (1939-1941) namun belum sempat meraih gelar keserjanaan karena merambahnya perang dunia ke II ke indonesia, sehingga menuntut
yang bersangkutan terjun ke dunia militer. Beliau mengakhiri masa
lajangnya dengan menyunting seorang gadis raden ayu suharsi widyanti,putri bangsawan keraton mangkunegara solo pada 1 juni 1947, dikaruniai tiga orang putri.

Anak Raja menjadi Tentara!
Pada masa itu memang aneh jika ada dari kalangan bangsawan atau pangeran putra raja yang berminat untuk menjadi prajurit militer. Biasanya hanya dari kalangan masyarakat biasa saja yang tertarik untuk masuk dinas militer.Namun fenomena itu tidak berlaku untuk seorang putra bangsawan keraton surakarta G.P.H.Djatikusumo G.P.H.Djatikusumo mengawali dunia keprajuritan sejak masa kolonial belanda dengan memasuki milisi corps opleiding reserve officieren     ( CORO ) yaitu sekolah perwira cadangan dibandung yang dibentuk Belanda untuk menghadapi perang melawan Jepang.
setelah jepang menang atas belanda, Jepang memanggil pemuda indonesia untuk mengikuti pendidikan militer sesuai UU Osama Sirei No.44 tahun 1943 yang disebut PETA di Bogor, dimana salah satu siswanya G.P.H.Djatikusumo( Angkatan I-1943-1944 ). Selesai mengikuti pendidikan PETA, Jabatan yang dipegang olehnya adlah Danki I Yon I PETA Surakarta ( Maret 1944- Agustus 1945 ). Beliau sempat mengikuti kursus kendo disurabaya, kursus perwira staf di Jakarta ( 1950 ) dan kursus atase militer di Jakarta ( 1951 ).Pada permulaan pembentukan BKR,G.P.H.Djatikusumo menjabat sebagai komandan BKR di Solo dengan pangkat Mayor. Selanjutnya BKR berubah menjadi TKR beliau menjabat sebagai Danyon I TKR( Tentara Keamanan Rakyat )bertempat tinggal di Benteng Vesternburgh Surakarta. Kemudian beliau memimpin Divisi IV dan membentuk 3 Resimen, Masing-masing memiliki 4 Batalyon yang wilayahnya meliputi daerah pekalongan,Semarang dan Pati(November 1945-Juni 1946).Selanjutnya menjabat sebagai panglima Divisi V/Ronggolawe Jawa Timur, meliputi Pati, Madiun dan Bojonegoro ( Juni 1946-Pebruari 1948 ).Di tahun 1948
G.P.H.Djatikusumo diberi kepercayaan menjabat sebagai KSAD
( yang pertama )dan merangkap sebagai Gubernur AKMIL dengan pangkat Kolonel( 1948-1949 ). Pada Agustus 1950-Maret 1952 dipercaya menjabat sebagai kepala Biro perancang Operasi Militer Kementrian Pertahanan di Jakarta dan Kepala Biro Pendidikan Pusat Kementrian Pertahanan di Jakarta kemudian pada bulan April 1952-1955 menjabat komandan SSKAD ( sekarang seskoad ) di Bandung. Dan terhitung mulai bulan April 1955-Agustus 1958 sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat di Jakarta dengan
pangkat Brigadir Jenderal. Ini berarti bahwa jabatan beliau menurun dari KSAD menjadi kepala Biro,dan SSKAD,DIRZIAD. Walaupun kemudian beliau tidak pernah mengeluh.

Pengalamanya semakin lengkap, dengan dipercaya menjabat di Bidang Pemerintahan G.P.H.Djatikusumo pada tahun 1958 menjadi Konsul Jenderal RI di Singapura, tahun 1959 menjadi Menteri Perhubungan Darat,Postel dan pariwasata dengan pangkat Mayor Jenderal.Pada tahun 1963 beliau diangkat menjadi Dubes RI untuk diMalaysia. Tahun 1965 menjadi Dubes RI di Maroko.
Tahun 1967 menjadi Dubes RI di Perancis,dan tahun 1959 Pati dapat SUAD.
Tahun 1973 memasuki masa purna tugas dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal TNI dan dianugerahi pangkat Jenderal TNI kehormatan TMT 01-11-1997. Puncaknya Gusti Pangeran Haryo Djatikusumo adalah dikukuhkan/diabadikan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Republik Indonesia Nomor 073/TK/ tahun 2002,tanggal 6 November 2002.

Jalan Berliku .
Banyak liku-liku perjalanan hidup kemiliteran yang dialami
G.P.H.Djatikusumo,antara lain:
Pada Oktober 1945 ketika pasukan Jepang menyerang sektor Semarang
Selatan, Mayor G.P.H.Djatikusumo sedang perjalan ke Solo untuk mengambil
meriam. Akan tetapi sesampainya di Solo beliau mendapat Telegram dari
oerip Sumohardjo yang memerintahkan agar segera ke Jakarta untuk
membantu tugas oerip diMarkas Komando Jakarta. Pada saat di Cikampek
mendapat kabar bahwa Markas di Jakarta telah pindah di Bandung, kemudian
beliau memutuskan untuk kembali ke Solo dengan tujuan agar berada
ditengah-tengah anak buahnya.Namun setelah tiba diSolo jabatan beliau
sudah digantikan oleh Pangeran Purbonegoro. Pada November 1945-juni 1946
beliau menjabat Panglima Divisi IV TKR bermarkas diSalatiga dengan
pangkat Jenderal Mayor,selanjutnya pada Juni 1946-pebruari 1948 menjabat
panglima Divisi V Ronggolawe TNI bermarkas di Mantingan Blora kemudian
pindah ke Cepu dengan pangkat Kolonel, akibat kebijaksanaan RERA
(Reorganisasi dan Resiolisasi), jabatan yang beliau emban sama, tetapi
pangkatnya turun dari Jenderal Mayor ke Kolonel. Terhitung Pebruari 1948
beliau menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat( KSAD ) dalam
Kementrian bermarkas di Jogjakarta, pada November 1948 merangkap sebagai
Gubernur Akmil dan pada tahun 1949 jabatan Kasad diserahterimakan kepada
Kolonel A.H Nasution .Pada April 1952-Maret 1955 beliau menerima tugas
jabatan Komandan SSKAD di Bandung sekarang dikenal Seskoad dari Letkol
inf A.J Mokoginta. Kemudian terhitung mulai april 1955 Agustus 1958
sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat.

Makna hidup seorang prajurit Djatikusumo
Salah satu fenomena yang menggelisahkan di kalangan saat ini adalah
muncul kecenderungan melemahnya loyalitas terhadap keputusan-keputusan
Pimpinan dan Komandan misalnya ungkapan tidak puas atas keputusan
pimpinannya, bergesernya orientasi dari melaksanakan tugas menjadi
mencari posisi sesuai selera,kecenderungan lebih banyak menuntut hak
dari pada memenuhi kewajiban. Hasil dari semua itu adalah hilangnya
kerelaan dan lebih banyak menerima/meminta.Sebagai prajurit tentu tidak
menghendaki kecenderungan ini terus berlanjut. Dalam konteks ke depan,
ada baiknya menengok kembali pengalaman-pengalaman seperti yang
ditampakkan oleh G.P.H. Djatikusumo. Bagaimana liku – liku perjalanan
hidup kemiliteran yang dialami G.P.H. Djatikusumo sebagai seorang
Bangsawan dengan segala kehormatannya rela ditinggalkan menjadi prajurit
sejati. Dalam sejarah tercatat bagaimana beliau diturunkan pangkatnya
menjadi Jenderal Mayor menjadi Kolonel padahal saat itu beliau menjabat
Kasad orang pertama di Angkatan Darat. Belum lagi beliau harus bersedia
tunduk dan taat kepada pimpinan yang dahulu mantan anak buahnya. Bahkan
dengan tulus ikhlas menerima sebagai jabatan di instansi yang lebih
rendah di lingkungan Angkatan Darat, seperti menjadi Komandan
SSKAD(Seskoad-sekarang). Direktur Zeni dan masih banyak lagi.
Banyak nilai-nilai yang dapat dipetik dari liku-liku perjalanan
karier G.P.H. Djatikusumo, antara lain :
1.Sebagai prajurit beliau tidak hanya loyal namun lebih dari itu adalah
seorang yang rendah hati, dan berjiwa besar kepada kepentingan bangsanya.
Berbicara loyalitas dan kerendahan hati G.P.H.Djatikusumo. Jenderal
besar A.H mengungkapkan Berkali-kali pindah bahkan turun tingkat jabatan,
namun tidak pernah protes. Bahkan G.P.H. Djatikusumo mengatakan:
Yang penting bukan jabatannya tetapi yang penting adalah
tugasnya Hal ini memberi gambaran kepada kita bahwa beliau
selalu loyal akan perintah dan tidak memilih-milih tugas atau
jabatan.
2.Sebagai sosok seorang prajurit yang sepi ing pamrih rame ing gawe.
Sosok pekerja keras dan penuh pengorbanan serta tidak pernah
mengharapkan imbalan jasa.Bahkan G.P.H. Djatikusumo pada amanat
perpisahan saat serah terima Dirziad,menyatakan :Usaha untuk mengabdi
pada negara dan rakyat indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan
kedaulatan, dan dalam mengejar cita-citanya,suatu negara yang aman, adil
dan makmur,meminta pemerasan keringat setiap hari ,bahkan di iringi
cucuran air mata dan pengorbanan jiwa….
3.Sosok prajurit yang yakin akan kebenaran tugas yang telah diberikan
oleh pimpinan kepadanya ,tidak ada ambisi pribadi dalam dirinya. Dalam
melaksanakan tugas selalu didasarkan pada semangat pengabdian yang
diwujudkan dalam sikap dan prilaku yang dilandasi keikhlasan berkorban,
berjuang dan berbhakti yang tidak mengenal menyerah,tahan menderita
serta senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dari pada
kepentingan pribadinya.Hal ini dilakukanya bukanya tampil beda atau ikut
ramai dengan kondisi waktu itu tetapi lahir dari suatu prinsip yang
luhur demi tetap tegaknya NKRI.
4. Sosok prajurit yang yakin dan percaya sepenuhnya terhadap
apa yang diputuskan oleh pimpinan/komandanya karena pimpinan
adalah orang yang diamanatkan tuhan melalui pemerintah untuk melaksanakan
suatu tugas.Kepatuhan terhadap pimpinan itu diyakini benar bahwa apa yang
telah diputuskan oleh pimpinan/komandan adalah hal terbaik karena sudah
melalui suatu proses yang panjang dan matang.Dalam hal ini tepatlah apa
yang dikatakan oleh G.P.H.Djatikusumo bahwa salah satu sumber kejayaan
Angkatan Bersenjata RI adlah mutu pemimpin dan kepemimpinannya.

Masih adakah Djatikusuma-Djatikusuma di Angkatan Darat.
Ditengah upaya bersama untuk membentuk dan merajut kembali
semangat juang akibat bergesernya pemahaman nilai-nilai perjuangan,
maka sudah waktunya untuk Meneladani sosok seorang Djatikusumo.Hal ini
menjadi
penting karena bukanlah para prajurit yang pernah bersumpah …….masih
ingatkah akan sumpah kita kepada Tuhan YME .Demi allah saya bersumpah/
berjanji :
bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Rupublik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945:bahwa saya akan tunduk kepada hukum dan memegang teguh
disiplin keprajuritan; bahwa saya akan taat kepada atasan dengan tidak
membantah perintah atau putusan ; bahwa saya akan taat kepada atasan
dengan tidak membantah perintah atau putusan;bahwa saya akan menjalankan
segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada tentara dan
Negara Rupublik Indonesia; bahwa saya akan memegang segala rahasia
tentara sekeras-sekerasnya. Sumpah merupakan satu tekad seseorang
dihadapan Tuhan YME bahwa ia akan berfikir , beramal,dan berkarya sesuai
dan tidak menyimpang dari isi sumpah yang diucapkanya. Sumpah juga
merupakan mekanisme kontrol diri yang menempel terus selama masalah
( tanggung jawab,tugas , jabatan , fungsi, peran maupun posisi ) yang
diterima sebagai amanah masih dilaksanakan . Maka agar para Prajurit
tidak termakan sumpah, sudah selayaknya belajar dari sosok seorang
G.P.H. Djatikusumo .Menjadi keyakinan bersama bahwa jabatan bukanlah
fasilitas pribadi maupun hadiah; jabatan adalah satu tanggung jawab dan
amanah yang harus dipertanggung jawabkan didunia dan di akhirat jadi
tidak dikejar atau dicari apalagi meminta.
Jabatan adalah fasilitas pengabdian dan berkarya untuk kemaslahatan
masyarakat melalui TNI Angkatan Darat . Janganlah terlintas dalam benak
untuk memperoleh sesuatu yang melanggar sumpah ,gunakan kata hati yang
sangat kuat untuk memegang teguh makna kata-kata dalam sumpahnya .Bila
melanggar sumpah berarti menghianati Tuhan YME.Kalau tuhanpun dikhianati,
apalagi Bangsa dan Negara maupun TNI Angkatan Darat . Panglima Besar
Jenderal Sudirman berpesan Jangan sekali-kali diantara tentara kita ada
yang menyalah janji, menjadi penghianat nusa, bangsa dan agama, harus
kamu sekalian senantiasa ingat, bahwa tiap-tiap perjuangan tentu memakan
korban, tetapi kamu sekalian telah bersumpah ikhlas mati untuk membela
temanmu yang telah gugur sebagai ratna, lagi pula untuk membela nusa dan
bangsa dan agamamu,sumpah wajib kamu tepati.

Bagaimana dengan kita !Mari belajar dari sosok G.P.H.Djatikusumo.
Jangan khianati perjuangan dan pengorbanan beliau yang begitu besar.
Ingat …..Belajarlah dari sejarah , agar menjadi cerdik, pandai,
bijaksana dan berilmu …Sejarah adalah guru kehidupan,oleh karena
itu belajarlah dari sejarah menjadi arif…Para Prajurit dituntut
untuk introspeksi dengan selalu bercermin pada peristiwa-peristiwa
dimasa lampau dan selanjutnya dijadikan acuan dalam meningkatkan dan
memantapkan kondisi mental kejuangan dirinya sehingga dapat
mengantisipasi dn menghadapi berbagai permasalahan tugas dimasa yang
akan datang dengan baik tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Prajurit
Sapta Marga. Jangan sempat melakukan sesuatu yang tidak terhormat,
betapapun kecilnya hal itu akn sangat merendahkan martabat TNI dan
diri sendiri.
Prajurit sejati tidak menangis oleh kematian , tidak pernah berkeluh
kesah karena pangkat dan jabatan, tidak pernah menyerah dalam perjuangan
serta rela berkorban untuk Nusa dan Bangsa. Kebanggan sejati seorang
Prajurit bukan terletak paada pangkatnya, jabatan ,dan atau kekayaanya,
melainkan bukti-bukti kesejatian keprajuritanya dan praktek-praktek
keteguhan keperwiraanya. Prajurit yang baik haruslah mampu mengabaikan
kepentingan yang lebih besar. Dibutuhkan ketaatan penuh dan kesetiaan
total kepada komandannya dan kesiapan untuk berkorban , Ingat
pesan G.P.H. Djatikusumo Kesetiaan bukan pilihan.Sepi ing pamrih rame
ing gawe. (Bekerja keras penuh pengorbanan tidak mengharapkan imbalan
jasa) .

Diterbitkan oleh : DINAS SEJARAH ANGKATAN DARAT Jl . Belitung No . 6 Bandung

Advertisements

About cosmas97

Guru Militer di Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI AD
This entry was posted in History. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s